Sistem Persediaan Perpetual - Materi Ekonomi Kelas 12

Sobat Zenius yang sudah naik ke kelas 12 pasti akan bertemu dengan sistem persediaan perpetual, nih.
Sistem persediaan perpetual merupakan metode pencatatan persediaan barang dagang yang dilakukan secara terus menerus. Sehingga, saldo akhirnya akan selalu terlihat setiap ada transaksi baru.
Ini berbeda dengan sistem persediaan periodik yang pencatatannya dilakukan di akhir periode.
Dari metode pencatatan ini, elo bisa mencari:
- Harga pokok penjualan (HPP)
- Persediaan akhir
- Laba kotor
Metode yang digunakan ada tiga, yaitu first in first out (FIFO), last in first out (LIFO) dan average.
Metode FIFO Perpetual
Pada metode first in first out (FIFO) perpetual, barang yang masuk pertama kali adalah barang yang kemudian pertama kali dijual.

Supaya lebih mudah memahaminya, coba perhatikan ilustrasi berikut.
Contoh:
Transaksi persediaan pakaian dari PD. Zeni
- 1 Juni persediaan awal 20 unit @ Rp 10.000
- 5 Juni pembelian 30 unit @ Rp 12.000
- 10 Juni pembelian 40 unit @ Rp 15.000
- 12 Juni penjualan 30 unit @ Rp 20.000
- 15 Juni pembelian 10 unit @ Rp 16.000
- 20 Juni penjualan 40 unit @ Rp 25.000
Berapa HPP, persediaan akhir, dan laba kotornya?
Lo bisa membuat jurnal persediaannya. Berdasarkan metode FIFO, semua barang yang dibeli akan masuk tabel persediaan, sementara barang yang dijual masuk tabel HPP. Dengan catatan, barang yang dijual pertama kali adalah barang yang pertama kali masuk, dan seterusnya.
Tanggal | Pembelian | HPP | Persediaan | |||||||
Unit | Harga/Unit | Total | Unit | Harga/Unit | Total | Unit | Harga/Unit | Total | ||
Juni | 1 | 20 | 10.000 | 200.000 | ||||||
5 | 30 | 12.000 | 360.000 | 20 | 10.000 | 200.000 | ||||
30 | 12.000 | 360.000 | ||||||||
10 | 40 | 15.000 | 600.000 | 20 | 10.000 | 200.000 | ||||
30 | 12.000 | 360.000 | ||||||||
40 | 15.000 | 600.000 | ||||||||
12 | 20 | 10.000 | 200.000 | 20 | 12.000 | 240.000 | ||||
10 | 12.000 | 120.000 | 40 | 15.000 | 600.000 | |||||
15 | 10 | 16.000 | 160.000 | 20 | 12.000 | 240.000 | ||||
40 | 15.000 | 600.000 | ||||||||
10 | 16.000 | 160.000 | ||||||||
20 | 20 | 12.000 | 240.000 | 20 | 15.000 | 300.000 | ||||
20 | 15.000 | 300.000 | 10 | 16.000 | 160.000 | |||||
HPP | 860.000 | Persediaan akhir | 460.000 |
Maka, laba kotornya adalah:
Laba kotor = Penjualan – HPP
Penjualan:
- 12 Juni 30 unit @ Rp 20.000 = Rp 600.000
- 20 Juni 40 unit @ Rp 25.000 = Rp 1.000.000
Total penjualan = Rp 1.600.000
Laba kotor = Rp 1.600.000 – Rp 860.000 = Rp 740.000
Baca Juga : Pengertian, Fungsi, dan Contoh Buku Besar Pembantu – Materi Ekonomi Kelas 12
Metode LIFO Perpetual
Berkebalikan dengan FIFO, pada metode last in first out, barang yang dijual pertama kali adalah barang yang pertama kali masuk.
Biar lebih gampang memahaminya, coba gunakan metode ini untuk menghitung HPP, persediaan akhir, dan laba kotor data dari ilustrasi di atas.
Seperti metode FIFO, lo bisa langsung membuat kartu persediaannya. Bedanya, lo harus menjual barang yang terakhir masuk terlebih dahulu.

Selanjutnya, elo bisa hitung laba kotornya.
Laba kotor = Penjualan – HPP
Penjualan:
- 12 Juni 30 unit @ Rp 20.000 = Rp 600.000
- 20 Juni 40 unit @ Rp 25.000 = Rp 1.000.000
Total penjualan = Rp 1.600.000
Laba kotor = Rp. 1.600.000 – Rp 1.000.000 = Rp 600.000
Metode Average Perpetual
Pada metode average, elo harus menjumlahkan seluruh pembelian yang ada. Kemudian, hitung harga rata-ratanya untuk mendapatkan harga/unit. Total pembelian inilah yang selanjutnya akan elo jual sesuai dengan harga/unit terakhir di kartu penjualan.
Biar lebih mudah dipahami, gunakan metode ini berdasarkan ilustrasi di atas tadi untuk mencari HPP, persediaan akhir, dan laba kotornya.

Lanjut hitung laba kotornya.
Laba kotor = Penjualan – HPP
Penjualan:
- 12 Juni 30 unit @ Rp 20.000 = Rp 600.000
- 20 Juni 40 unit @ Rp 25.000 = Rp 1.000.000
Total penjualan = Rp 1.600.000
Laba kotor = Rp 1.600.000 – Rp 919.990 = Rp 680.010
Biar lebih paham lagi, coba selesaikan contoh soal ini, yuk!
Contoh Soal Persediaan Metode Perpetual
Transaksi persediaan sepatu dari PD. Zeni
- 1 Juni persediaan awal 20 unit @ Rp 15.000
- 5 Juni pembelian 30 unit @ Rp 16.000
- 10 Juni pembelian 40 unit @ Rp 20.000
- 12 Juni penjualan 30 unit @ Rp 25.000
- 15 Juni pembelian 10 unit @ Rp 22.000
- 20 Juni penjualan 40 unit @ Rp 30.000
Hitunglah HPP, persediaan akhir, dan laba kotornya dengan metode average!
Jawab:
Tanggal | Pembelian | HPP | Persediaan | |||||||
Unit | Harga/Unit | Total | Unit | Harga/Unit | Total | Unit | Harga/Unit | Total | ||
Juni | 1 | 20 | 15.000 | 300.000 | ||||||
5 | 30 | 16.000 | 480.000 | 50 | 15.600 | 780.000 | ||||
10 | 40 | 20.000 | 800.000 | 90 | 17.556 | 1.580.000 | ||||
12 | 30 | 17.557 | 526.680 | 60 | 17.556 | 1.053.320 | ||||
15 | 10 | 22.000 | 220.000 | 70 | 18.190 | 1.273.320 | ||||
20 | 40 | 18.190 | 727.600 | 30 | 13.333 | 545.720 | ||||
HPP | 1.254.280 | Persediaan akhir | 545.720 |
Laba kotor = Penjualan – HPP
Penjualan:
- 12 Juni 30 unit @ Rp 25.000 = Rp 750.000
- 20 Juni 40 unit @ Rp 30.000 = Rp 1.200.000
Total penjualan = Rp 1.950.000
Laba kotor = Rp 1.950.000 – Rp 1.245.280 = Rp 704.720
Nah, apa elo masih bingung dengan sistem persediaan perpetual ini? Elo bisa mempelajarinya lebih dalam lagi bareng tutor di aplikasi Zenius dengan klik banner di bawah ini. Yuk, download aplikasinya!
Baca Juga :
Fungsi Jurnal Umum, Cara Membuat, dan Contohnya – Materi Ekonomi Kelas 12
Buku Besar Utama – Pengertian, Fungsi dan Contoh – Materi Ekonomi Kelas 12