Klasifikasi, Lokasi, dan Relokasi Industri - Materi Geografi Kelas 12

Halo Sobat Zenius, di artikel kali ini gue akan membahas tuntas mengenai materi klasifikasi industri. Dan perlu elo tau materi ini termasuk salah satu materi yang akan elo pelajari di mata pelajaran Geografi kelas 12.
Selain klasifikasi industri, gue juga akan membahas teori relokasi industri, faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi industri, hingga tujuan relokasi dilakukan.
Tapi sebelum mulai artikelnya, gue boleh minta bantuan elo sedikit? Saat ini, di detik ini, elo baca artikel ini melalui perangkat apa sih? Apakah laptop, komputer, telepon genggam, atau mungkin tablet? Tolong isi poll di bawah ini ya Sobat Zenius~

Apapun perangkat yang elo pakai, tentu semuanya memiliki setidaknya satu kesamaan: diproduksi oleh suatu pabrik dari industri manufaktur barang elektronik.
Sebenarnya industri itu apa ya? Terus kok bisa ya ada lokasi jadi pusat industri? Memangnya ada seperti apa kegiatan ekonomi di sana?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, yuk kita bahas konsep, klasifikasi, lokasi, dan relokasi industri bareng-bareng.
Konsep Industri
Sebelum masuk dalam pembahasan klasifikasi industri, kita harus tau dulu nih mengenai pengertian dari industri itu sendiri.
Jadi menurut KBBI, industri adalah kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan. Berarti jelas ya, industri itu mengacu pada sebuah bentuk kegiatan.
Pertanyaannya, barang apa yang diolah? Proses produksinya gimana? Produknya apa? Waa.. banyak ya pertanyaannya.
Sebenarnya ada berbagai klasifikasi industri berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tadi. Oleh karena itu, mari kita lanjut ke bagian klasifikasi industri.
Klasifikasi Industri
Nah, setelah elo tau pengertian dari industri. Nantinya industri ini akan dibagi lagi, atau yang kita kenal dengan klasifikasi industri.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi industri adalah faktor kawasan, bahan baku, produk, proses industri hingga lokasi unit usaha.
Untuk pembahasan lebih lengkapnya, langsung cek di bawah ya!

Klasifikasi Industri Berdasarkan Kawasan
Klasifikasi industri berdasarkan kawasan dibagi menjadi dua: kawasan berikat dan kawasan bebas.
Nah tabel di bawah ini adalah perbedaan antara kawasan berikat dan Kawasan bebas:
Kawasan Berikat | Kawasan Bebas |
|
|
Klasifikasi Industri Berdasarkan Bahan Baku
Kalo berdasarkan bahan baku, klasifikasi industri dibagi menjadi tiga: ekstraktif, nonekstraktif, dan fasilitatif. Apa perbedaannya? Silahkan lihat di tabel ini.
Ekstraktif | Nonekstraktif | Fasilitatif |
|
|
|
Klasifikasi Industri Berdasarkan Produk
Sesuai dengan produk yang dihasilkan, klasifikasi industri dibagi menjadi tiga yaitu industri primer, sekunder, dan tersier.
Primer | Sekunder | Tersier |
|
|
|
Klasifikasi Industri Berdasarkan Proses Produksi
Proses produksi pada industri dapat diklasifikasikan menjadi dua: hulu dan hilir. Mirip sama nama bagian sungai ya? Hulu biasanya berhubungan dengan kata atas, awal, dan permulaan.
Sedangkan, hilir biasanya berhubungan dengan kata bawah dan akhir. Lalu apa yang dimaksud dengan proses produksi hulu dan hilir? Silahkan lihat di tabel di bawah ini.
Industri Hulu | Industri Hilir |
|
|
Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi Unit Usaha
Selanjutnya, klasifikasi berdasarkan lokasi unit usaha. Klasifikasi ini didasarkan empat lokasi terdekat yaitu pasar, tenaga kerja, bahan mentah, dan pengolahan.
Maksudnya gimana tuh? Yuk langsung saja kita lihat tabel di bawah ini.
Pasar |
|
Tenaga Kerja |
|
Bahan Mentah |
|
Pengolahan |
|

Nah, setelah membaca bagian ini gue harap elo udah bisa menjawab kalo ada pertanyaan kayak gini: jelaskan penggolongan industri berdasarkan pemilihan lokasi.
Berarti jawabannya adalah sebagai berikut:
- Berorientasi pada pasar (Market Oriented Industry)
- Berorientasi pada tenaga kerja (Power Oriented Industry)
- Berorientasi pada tempat pengolahan (Supply Oriented Industry)
- Berorientasi pada sumber bahan mentah (Raw Material Oriented Industry)
Industri Kecil, Menengah, dan Besar
Sebagai catatan tambahan, klasifikasi industri kecil, sedang, dan besar merupakan klasifikasi yang diatur oleh Permenperin no. 64 tahun 2016.
Industri kecil sedang dan besar merupakan klasifikasi industri berdasarkan jumlah tenaga kerja dan besar nilai investasi.
Menurut undang-undang tersebut, tenaga kerja adalah “tenaga kerja tetap yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur”.
Sedangkan, nilai investasi adalah “nilai tanah, bangunan, mesin peralatan, sarana dan prasarana, tidak termasuk modal kerja yang digunakan untuk melakukan kegiatan industri”.
Oke, sudah jelas nih apa tenaga kerja dan nilai investasi yang dimaksud. Sekarang pertanyaannya, berapa jumlah tenaga kerja dan nilai investasi untuk industri kecil, menengah, dan besar?

Dari pasal 3, kita bisa melihat bahwa industri kecil itu memiliki kurang dari 20 tenaga kerja dan nilai investasinya kurang dari Rp 1.000.000.000,-.

Dari pasal 4, kita bisa melihat bahwa industri sedang atau menengah itu bisa jadi memiliki kurang dari 20 tenaga kerja dan nilai investasinya lebih dari Rp1.000.000.000,-.
Bisa juga industri menengah itu memiliki lebih dari dua puluh orang tenaga kerja dan memiliki nilai investasi kurang dari sama dengan Rp15.000.000.000,-.

Dari pasal 5, industri besar itu punya lebih dari 20 tenaga kerja dan nilai investasinya lebih dari Rp15.000.000.000,-.
Dari tiga pasal tadi, bisa disimpulkan bahwa industri kecil, menengah, dan besar itu dapat dikelompokkan seperti ini.
< 1M nilai investasi | 1-15M nilai investasi | > 15M nilai investasi | |
<20 tenaga kerja | Industri Kecil | Industri Menengah | Industri Menengah |
20-99 tenaga kerja | Industri Menengah | Industri Menengah | Industri Besar |
>100 tenaga kerja | Industri Menengah | Industri Menengah | Industri Besar |
Sebelum lanjut ke pembahasan tentang lokasi industri, bakal lebih seru kalau elo langsung belajar lewat aplikasi Zenius. Nggak cuma itu, elo bisa belajar banyak materi pelajaran lain lewat video tutor Zenius yang asyik dan bikin ngerti.
Lokasi Industri
Sebelumnya kita sudah bahas konsep dan klasifikasi industri. Nah, selain memahami konsep industri, penting juga bagi kita untuk tahu bagaimana lokasi industri ditentukan.
Lokasi merupakan salah satu faktor penting yang perlu dipikirkan ketika membangun sebuah kawasan industri. Faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi industri adalah tentang ongkos atau biaya.
Nah, sebenarnya faktor-faktor tersebut berasal dari munculnya teori relokasi industri yang dikemukakan oleh Alfred Weber berikut ini:
Teori Lokasi Industri Menurut Weber
Alfred Weber mengemukakan bahwa lokasi industri dipilih di tempat yang biaya transportasinya minimal.
Prinsip teori lokasi industri Alfred Weber adalah mempertimbangkan risiko biaya atau ongkos yang paling minimum.
Untuk menentukan lokasi industri yang paling pas, Weber membuat rancangan perhitungan yang disebut sebagai segitiga lokasi Weber atau segitiga lokasional (locational triangle).

Faktor Lokasi Industri
Masih berlanjut dari teori lokasi sebelumnya, Weber menyatakan bahwa terdapat tiga faktor utama dalam penentuan lokasi industri yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan aglomerasi.
Nah, untuk mendalami lebih lanjut, kita bahas satu per satu apa penjelasan biaya transportasi, tenaga kerja, dan aglomerasi.
Biaya Transportasi dan Tenaga Kerja
Menurut Weber, perhitungan biaya transportasi dan tenaga kerja berguna untuk mengetahui biaya pendekatan terendah dengan kurva isodapan weber. Kurva isodapan Weber digambarkan seperti ini.

Aglomerasi
Lalu apa itu aglomerasi? Aglomerasi adalah pengumpulan atau pengelompokan fenomena pada suatu wilayah. Dalam materi kali ini, aglomerasi mengacu pada berkumpulnya kawasan industri.
Contohnya, industri pertanian dan industri pengolahan makanan dibangun berdekatan. Contoh lainnya industri yang membutuhkan bahan mentah berupa batuan dan metal cenderung berdiri di dekat sumber bahan baku.
Menurut Weber, aglomerasi bisa digambarkan seperti ini.

Dengan catatan, T adalah lokasi dengan biaya transportasi minimum. Keuntungan nontransport yang dimaksud termasuk upah buruh murah, tenaga kerja mudah diperoleh, tersedia fasilitas pendukung.
Indeks Material
Selain rumusan faktor tadi, Weber juga mengembangkan rumus indeks material untuk mengetahui lokasi industri berorientasi pada pasar dan bahan baku. Rumus ini juga berguna untuk penentuan lokasi.

Pada dasarnya, indeks material adalah perbandingan berat bahan baku dengan berat bahan jadi yang dituliskan seperti ini.
Lalu gimana perhitungan hitung indeks material dan apa gunanya?
- Jika indeks material lebih dari 1, berarti berat bahan mentah lebih berat dibanding berat bahan jadi. Maka, lokasi industri akan berorientasi ke bahan mentah. Contohnya seperti pabrik besi dan baja.
- Jika indeks material kurang dari 1, berarti berat bahan mentah kurang dari berat bahan jadi. Maka, lokasi industri akan berorientasi ke bahan jadi alias pasar. Contohnya seperti pabrik makanan.
Relokasi Industri

Relokasi Industri (Arsip Zenius)
Pengertian relokasi industri di sini bukan sekedar mengacu pada industri yang lokasinya dipindah ya.
Relokasi industri adalah pemindahan industri dari suatu negara ke negara lain. Biasanya industri di sebuah negara maju di relokasi ke sebuah negara berkembang.
Selanjutnya, kita akan bahas lebih lanjut hal-hal yang berhubungan dengan relokasi industri termasuk faktor, tujuan, dampak, dan contoh relokasi industri di Indonesia.
Faktor Relokasi Industri
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi relokasi industri adalah sebagai berikut:
- upah lebih murah
- mengurangi tingkat polusi
- negara tujuan memiliki tenaga kerja yang sesuai
- memperluas usaha industri
Tujuan Relokasi Industri
Mengapa industri di negara maju mau bela-belain pindah ke negara berkembang?
Tentunya ini berhubungan dengan faktor yang sebelumnya dibahas.
Dengan tujuan untuk mendapatkan tenaga kerja dengan upah yang lebih mudah serta memperluas usaha industri itu sendiri, perusahaan tidak akan ragu untuk bersusah payah melakukan relokasi.
Dampak Relokasi Industri
Dampak ini dapat dilihat dari dua sisi yaitu bagi negara maju dan negara berkembang. Mari kita lihat apa dampak positif dan negatif relokasi bagi dua tipe negara yang berbeda.
Dampak Relokasi Industri bagi Negara Maju
Negara Maju | |
Dampak Positif | Dampak Negatif |
|
|
Faktor penarik relokasi industri ke negara tujuan adalah sama seperti yang tercantum di dampak negatif dari relokasi industri di atas ya.
Dampak Relokasi Industri bagi Negara Berkembang
Negara Berkembang | |
Dampak Positif | Dampak Negatif |
|
|
Apakah elo punya pertanyaan tentang dampak-dampak di atas? Kalo ada, langsung aja tanyakan di kolom komentar.
Contoh Relokasi Industri di Indonesia
Sebenarnya contoh relokasi industri di Indonesia itu banyak banget. Coba aja lihat brand barang-barang di sekitar elo. Kalo ada yang brand luar, ada kemungkinan itu hasil produksi industri yang sudah direlokasi.
Nggak usah mikir jauh-jauh, barang kebutuhan sehari-hari yang elo konsumsi seperti makanan, sabun, dan odol itu bisa jadi merupakan hasil produksi Unilever, sebuah industri bidang manufaktur, pemasaran, dan distribusi barang konsumsi.
Dari satu contoh tadi, menurut elo apa lagi contoh relokasi industri di Indonesia? Share jawaban elo di kolom komentar ya!
Oke Sobat Zenius, sampai di sini dulu ya pembahasan mengenai klasifikasi industri, lokasi industri hingga relokasi industri.
Tapi kalo elo masih ingin matengin cara belajar, yuk langganan paket belajar Zenius. Elo bisa dapetin ribuan materi belajar dan ikut live class bareng para tutor berpengalaman. Klik gambar di bawah ini buat info selanjutnya, ya!
Dan kalo elo ingin belajar lebih lanjut mengenai materi ini atau materi di mata pelajaran lainnya, silakan tonton video-videonya dengan klik banner di bawah ini ya! Klik dan langsung belajar!
Oke, sampai sini dulu artikel kali ini dan sampai jumpa di artikel selanjutnya, ciao!
Baca Juga Artikel Lainnya
Wilayah dan Tata Ruang Indonesia – Materi Geografi Kelas 12
Struktur Keruangan Desa dan Kota – Materi Geografi Kelas 12
Kekuatan Interaksi Desa dan Kota – Materi Geografi Kelas 12
Originally published November 30, 2021
Updated by Silvia Dwi dan Sabrina Mulia Rhamadanty